Maulid Nabi Muhammad ﷺ bagi kita, para dosen, semestinya tidak berhenti pada ucapan selamat, menghadiri pengajian, membaca shalawat, atau memasang poster di media sosial. Di tengah kesibukan kita, Maulid mestinya menjadi kesempatan untuk bercermin: sudahkah Sunnah Rasulullah ﷺ hadir dalam cara kita menjalani profesi sebagai dosen?
Pertanyaan itu semakin relevan ketika melihat kehidupan perguruan tinggi hari ini. Hari-hari kita dipenuhi SKS, RPS, BKD, akreditasi, jabatan akademik, publikasi bereputasi, sitasi, impact factor, dan berbagai indikator kinerja. Semua tentu ada gunanya. Tetapi sesekali kita perlu bertanya: Apakah semua kesibukan itu benar-benar membuat pendidikan kita semakin baik? Apakah penelitian kita semakin mendekatkan kita kepada kebenaran? Dan apakah ilmu yang kita hasilkan sungguh dirasakan manfaatnya oleh masyarakat?
Ketika Mengajar Menjadi Sekadar Memenuhi SKS
Rasulullah ﷺ adalah seorang pendidik. Namun beliau tidak mendidik sekadar untuk menyampaikan materi. Beliau mendidik untuk mengubah manusia. Rasulullah ﷺ bersabda:
عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، عَنِ النَّبِيِّ ﷺ قَالَ يَسِّرُوا وَلَا تُعَسِّرُوا، وَبَشِّرُوا وَلَا تُنَفِّرُوا
“Permudahlah dan jangan mempersulit. Berilah kabar gembira dan jangan membuat orang menjauh.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)
Hadis ini layak kita bawa ke ruang kuliah. Tanpa sadar, kita terkadang merasa telah menunaikan tugas ketika enam belas pertemuan terpenuhi. RPS tersedia, presensi lengkap, materi diunggah, UTS dan UAS dilaksanakan, dan nilai masuk ke sistem. Secara administratif, selesai. Tetapi apakah mahasiswa kita benar-benar belajar?
Administrasi boleh lengkap, tetapi jangan-jangan mahasiswa masih takut bertanya. RPS boleh sempurna, tetapi kelas kita membosankan. Teknologi pembelajaran boleh semakin canggih, tetapi hubungan manusiawi antara dosen dan mahasiswa justru semakin jauh. Maka ukuran keberhasilan mengajar semestinya lebih dalam: Apakah mahasiswa menjadi lebih kritis? Lebih berani berpikir? Lebih jujur dan semakin mencintai ilmu? Jika tidak, mungkin kita telah selesai mengajar mata kuliah, tetapi belum tentu berhasil mendidik manusia.
Ketika Kita Lebih Sibuk Membuktikan Kinerja
Perguruan tinggi membutuhkan akuntabilitas. Dosen harus mempertanggungjawabkan pekerjaannya. Yang perlu diwaspadai adalah ketika instrumen untuk mengukur pekerjaan perlahan-lahan justru menjadi tujuan pekerjaan itu sendiri. Kita mengisi BKD, mengunggah bukti kegiatan, mengurus jabatan akademik, mengejar publikasi, dan melengkapi berbagai sistem informasi. Semua memang bagian dari kehidupan dosen hari ini. Tetapi jangan sampai kita lebih sibuk membuktikan bahwa kita bekerja daripada menghasilkan sesuatu yang berarti dari pekerjaan kita.
Allah berfirman:
لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ
“Sungguh, telah ada pada diri Rasulullah itu suri teladan yang baik bagi kalian.” (QS. Al-Ahzab: 21)
Rasulullah ﷺ membangun manusia melalui keteladanan. Maka selain bertanya, “Apakah BKD saya sudah memenuhi?”, kita perlu bertanya lebih dalam: “Apakah kehadiran saya sebagai dosen benar-benar berarti bagi mahasiswa, ilmu pengetahuan, dan masyarakat?”
Ketika Penelitian Menjadi Industri Publikasi
Penelitian adalah jantung perguruan tinggi. Tetapi kita juga perlu jujur. Berapa banyak penelitian dilakukan karena ada persoalan ilmiah yang membuat kita penasaran dan ingin menemukan jawabannya? Dan berapa banyak yang terutama dilakukan karena tuntutan publikasi, jabatan akademik, hibah, atau akreditasi?
Publikasi, jurnal bereputasi, dan sitasi tentu penting. Persoalannya muncul ketika semua itu bergeser dari sarana menjadi tujuan. Padahal Al-Qur’an mengajak manusia mengamati dan memikirkan fenomena ciptaan Allah:
إِنَّ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَاخْتِلَافِ اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ لَآيَاتٍ لِأُولِي الْأَلْبَابِ الَّذِينَ يَذْكُرُونَ اللَّهَ قِيَامًا وَقُعُودًا وَعَلَىٰ جُنُوبِهِمْ وَيَتَفَكَّرُونَ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ
“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan pergantian malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang yang berakal, yaitu orang-orang yang mengingat Allah dan memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi.” (QS. Ali ‘Imran: 190–191)
Ayat ini menghadirkan spirit yang dekat dengan hakikat penelitian: mengamati, mempertanyakan, memikirkan, dan berusaha memahami realitas. Meneliti semestinya lahir dari kegelisahan intelektual dan keingintahuan terhadap persoalan yang belum terjawab, lalu mencari jawabannya melalui proses ilmiah yang dapat dipertanggungjawabkan. Penelitian adalah pencarian ilmu, bukan sekadar jalan menambah satu judul dalam daftar publikasi.
Dalam soal kejujuran, Rasulullah ﷺ memperingatkan:
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ ﷺ قَالَ مَنْ غَشَّنَا فَلَيْسَ مِنَّا
“Barangsiapa menipu kami, maka ia bukan termasuk golongan kami.” (HR. Muslim)
Manipulasi data, plagiarisme, mencantumkan referensi yang tidak pernah dibaca, atau “merapikan” data agar sesuai hipotesis bukan sekadar pelanggaran metodologi. Itu persoalan kejujuran. Demikian pula AI: teknologi boleh membantu kerja ilmiah, tetapi tidak boleh menggantikan proses membaca, berpikir, dan tanggung jawab intelektual manusia. Lebih baik penelitian kita sederhana tetapi dilakukan dengan jujur daripada tampak hebat tetapi sebenarnya mengkhianati data dan proses ilmiah.
Ribuan Artikel Terbit, Lalu Apa?
Setiap tahun perguruan tinggi menghasilkan begitu banyak penelitian, artikel jurnal, skripsi, tesis, dan disertasi. Itu menggembirakan. Tetapi ada pertanyaan yang mungkin tidak nyaman: setelah semuanya terbit dan tersimpan di repositori, apa yang berubah di masyarakat? Apakah sekolah menjadi lebih baik? Apakah guru dan petani semakin terbantu? Apakah UMKM berkembang? Apakah persoalan lingkungan berkurang? Apakah teknologi yang dikembangkan benar-benar digunakan masyarakat? Pertanyaan ini penting agar penelitian tidak berhenti ketika artikel memperoleh DOI atau laporan penelitian selesai.
Ilmu seharusnya menghadirkan kemaslahatan. Karena itu, pengabdian jangan sampai berubah menjadi ritual akademik: datang ke desa, memasang spanduk, memberikan pelatihan beberapa jam, berfoto bersama, membuat laporan, lalu selesai. Masyarakat bukan latar belakang untuk memenuhi kewajiban Tridharma. Mereka adalah manusia yang perlu kita dengarkan dan pahami. Sebelum bertanya, “Program pengabdian apa yang akan kita buat?”, mungkin kita perlu bertanya: “Apa yang sebenarnya mereka butuhkan, dan apa yang bisa ilmu kita lakukan untuk membantu?”
Jangan Sampai Tridharma Kehilangan Ruh
Pendidikan, penelitian, dan pengabdian adalah pekerjaan mulia. Tetapi sesuatu yang mulia bisa kehilangan ruh ketika direduksi menjadi angka. Pendidikan menjadi SKS, penelitian menjadi jumlah publikasi, pengabdian menjadi laporan, prestasi menjadi angka kredit, dan kualitas menjadi peringkat.
Kita bisa menghabiskan begitu banyak waktu untuk mengurus bukti bahwa kita telah menjalankan Tridharma, sementara waktu untuk membaca, berpikir, berdiskusi dengan mahasiswa, meneliti secara mendalam, dan hadir di tengah masyarakat semakin sempit. Administrasi, akreditasi, BKD, dan indikator kinerja tetap diperlukan. Tetapi semuanya adalah alat. Jangan sampai alat mengambil alih tujuan.
Maulid dan Pertanyaan: Untuk Apa Kita Menjadi Dosen?
Rasulullah ﷺ bersabda:
عَنْ أَبِي الدَّرْدَاءِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ: سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ ﷺ يَقُولُ إِنَّ الْعُلَمَاءَ وَرَثَةُ الْأَنْبِيَاءِ وَإِنَّ الْأَنْبِيَاءَ لَمْ يُوَرِّثُوا دِينَارًا وَلَا دِرْهَمًا، إِنَّمَا وَرَّثُوا الْعِلْمَ
“Sesungguhnya para ulama adalah pewaris para nabi. Para nabi tidak mewariskan dinar maupun dirham; mereka hanyalah mewariskan ilmu.” (HR. Abu Dawud dan At-Tirmidzi)
Menjadi pewaris para nabi bukan karena gelar akademik kita panjang, publikasi kita banyak, atau jabatan akademik kita tinggi. Warisan para nabi adalah ilmu, kebenaran, keteladanan, dan kemanfaatan. Maka pada momentum Maulid Nabi Muhammad ﷺ, kita perlu bertanya: Untuk apa sebenarnya saya menjadi dosen? Apakah sekadar menyelesaikan SKS, memenuhi BKD, mengejar jabatan akademik, dan menambah publikasi? Ataukah profesi ini kita jalani sebagai bagian dari ibadah dan amanah keilmuan?
Pada akhirnya, keberhasilan seorang dosen mungkin tidak cukup diukur dari panjangnya daftar publikasi atau tingginya jabatan akademik. Ada ukuran yang lebih hakiki: berapa banyak manusia yang tercerahkan karena kita mengajar, berapa banyak kebenaran yang terungkap karena kita meneliti, dan berapa banyak kehidupan yang menjadi lebih baik karena ilmu yang kita miliki. Itulah Tridharma yang memiliki ruh. Dan barangkali, itulah cara kita memaknai Maulid Nabi: tidak hanya mengenang kelahiran Rasulullah ﷺ, tetapi menghadirkan Sunnah dan misi kerasulannya dalam ruang kuliah, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat.
Penulis:
Dr. Rohani, S.Pd., M.A.
Dosen pada Universitas Negeri Semarang
